SisiNews|Sibolga : Berbagai daerah di Indonesia memiliki cara khas dalam menyambut datangnya bulan ramadhan. Begitu juga dengan masyarakat di Pesisir pantai barat Sumatera Utara seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah.
Daerah ini juga memiliki tradisi menyambut bulan ramadhan, yakni Marpangir atau Balimo-limo. Marpangir atau Balimo ini merupakan tradisi mandi menggunakan ramuan alami sebagai persiapan menyambut puasa Ramadan.
Ramuan tersebut dibuat dari aneka daun, bunga, serta rempah yang diracik khusus. Bahan pangir atau limau (limo= bhs pesisir) umumnya terdiri dari pandan, serai, jeruk purut, kenanga, dan bunga mawar.
“Tapi ada juga yang menambahkan berapa jenis bahan lainnya seperti akar kautsar dan embelu sebagai pelengkap. Namun, bahan-bahan itu semakin jarang ditemukan,” ujar Suryanti, ibu rumah tangga di Sibolga, Kamis, 18 Februari 2026.
Mandi Marpangir atau Balimo kata Suryanti, dimaknai sebagai upaya membersihkan diri secara lahir dan batin.
“ni seperti melambangkan kesiapan hati serta niat suci dalam menghadapi ibadah puasa, dan tradisi ini telah dilaksanakan secara turun temurun, sejak dari leluhur masyarakat pesisir hingga saat ini,” jelasnya.
Suryanti menyebut, biasanya Marpangir atau Balimo ini dilakukan bersama keluarga atau komunitas di sungai dan pemandian.
“Sekarang sudah tak mungkin lagi kita marpangir atau Balimo-limo di sungai. Lihatlah hampir semua sungai yang ada di Sibolga Tapanuli Tengah ini sudah sangat kotor dan berlumpur, karena bencana banjir yang terjadi pada 25 November 2025 lalu dan banjir terakhir pada Senin 16 Februari 2026 lalu,” tuturnya.
Namun Suryanti menyebut, dirinya dan keluarganya tetap menjalankan tradisi marpangir atau Balimo menyambut Ramadhan di rumah.
Sementara Abdul Wahid, seorang tokoh masyarakat di Sibolga mengatakan, tak ada larangan dalam melakukan Marpangir atau Balimo, sejauh niat untuk melakukannya tidak bertentangan dengan ajaran agama.
“Tradisi mandi Marpangir ini bukan merupakan kewajiban dalam ajaran Islam, tetapi lebih sebagai warisan budaya bangsa, dan boleh dilakukan di rumah,” ucapnya.
Kemudian lelaki paru baya ini mengatakan, lebih elok menjadikan tradisi mandi Marpangir atau balimo memotivasi diri agar semakin teguh dan tekun dalam menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan.
Meskipun kini sungai – sungai di Tapanuli Tengah sepi dari kegiatan Marpangir atau balimo karena bencana yang terjadi, tetapi tradisi ini tetap dipertahankan sebagai warisan budaya yang selaras nilai keagamaan.
Tradisi Marpangir atau balimo ini menjadi pengingat pentingnya kesadaran dan kesucian diri sebelum memasuki bulan suci Ramadan.








