SisiNews|Jakarta: Nilai tukar rupiah pada Senin (9/3/2026) sempat turun 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp 17.001 per USD. Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seiring meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar global akibat lonjakan harga minyak dunia.
Tekanan terhadap rupiah dipicu kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan tajam harga minyak mentah yang berpotensi menekan perekonomian global dan meningkatkan inflasi.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap USD oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati USD 100 per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” ujar Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong, di Jakarta.
Diperkirakannya, pergerakan rupiah hari ini berada pada kisaran Rp 16.900 hingga Rp 17.050 per USD.
Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran berdampak pada jalur pelayaran energi strategis di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak global.
Harga minyak mentah jenis WTI tercatat melonjak 20,81 persen menjadi USD 109,82 per barel, sementara minyak Brent naik 18,17 persen menjadi USD 109,53 per barel. Sementara pada Senin siang, harga minyak sudah naik lagi jadi USD118 per barel.
Lonjakan tersebut memperbesar kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang pada akhirnya turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ekonom Bloomberg Tamara Henderson menyebut jika kenaikan biaya energi terjadi berkelanjutan, inflasi domesti diperkirakan bisa melampaui target Bank Indonesia pada pertengahan tahun mendatang.
“Dengan inflasi akhir tahun berpotensi mencapai sekitar 4,8%, apabila dampaknya sepenuhnya diteruskan ke harga barang dan jasa yang sensitif terhadap bahan bakar,” ujar Tamara dalam catatannya, baru-baru ini.
Bahkan, dalam skenario yang lebih ekstrem, yaitu terjadinya kenaikan harga energi sekitar 20%, dapat membuat inflasi melampaui target lebih cepat, bahkan bisa terjadi pada April atau Mei.
Dalam kondisi lebih ekstrem tersebut, Henderson itu mencatat inflasi Indonesia bahkan berpotensi mendekati 7,5% pada akhir tahun, terutama jika tidak ada bantalan dari subsidi energi, penguatan rupiah, atau kebijakan penahan harga dari pemerintah.






