SisiNews|Jakarta – Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) akan melakukan kontrol ketat ketersediaan stok dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) guna memastikan kebutuhan energi masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah terpenuhi.
Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan pengawasan dilakukan secara intensif melalui koordinasi lintas sektor serta pemantauan langsung di lapangan.
“Kami melakukan kontrol ketat terhadap ketersediaan dan penyaluran BBM selama Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1447 H. Berdasarkan realisasi hingga saat ini, stok BBM aman dan terkendali,” ujar Kepala BPH Migas Wahyudi Anas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/2/2026).
Dikatakannya, penguatan koordinasi juga dilakukan bersama PT Pertamina Patra Niaga, khususnya di wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan mobilitas selama periode mudik Idul Fitri. Wilayah tersebut mencakup jalur utama dan alternatif, kawasan tol, hingga destinasi wisata.
Menurut Wahyudi, secara nasional, hingga 19 Februari 2026, realisasi penyaluran minyak tanah dalam 50 hari pertama mencapai 12,84% dari kuota. Adapun minyak solar tercatat sebesar 13,22%, sedangkan Pertalite mencapai 12,19% dari total kuota dan angka tersebut masih berada dalam koridor perencanaan distribusi awal tahun.
Menurut Wahyudi, peningkatan konsumsi BBM diperkirakan terjadi di sejumlah klaster utama. Salah satunya adalah klaster tol Trans Jawa dengan perkiraan kenaikan konsumsi sekitar 25% hingga 30% dibandingkan hari normal.
“Strategi pengendalian disiapkan untuk mencegah kelangkaan maupun antrean panjang,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pertamina menyiapkan penguatan stok di depot penyangga, menghadirkan SPBU modular di jalur tol serta kawasan wisata, dan menyediakan layanan motoris untuk menjangkau kendaraan yang terjebak kemacetan.
Pada sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga berencana mengaktifkan Posko Nasional Ramadan dan Idul Fitri pada 12 Maret hingga 31 Maret 2026.
“Posko ini melibatkan berbagai sektor, termasuk BBM, LPG, gas bumi, kelistrikan, hingga antisipasi kebencanaan geologi,” tambah Wahyudi.











